Retak di Antara Bayang
Angin malam menyusup melalui celah jendela, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di sudut kamar, deretan piala berjajar rapi, memantulkan bayangan seorang pemuda yang dulu berdiri gagah di atas podium. Jaan Ragana menatapnya dalam diam—bukan dengan kebanggaan, melainkan dengan kehampaan yang mengendap.

Dulu, setiap dentingan logam yang menggantung di lehernya adalah bukti bahwa ia ada, bahwa ia berarti. Setiap tepuk tangan, setiap seruan kemenangan, adalah nyala api yang membakar semangatnya. Namun kini, tangannya kosong. Bahunya yang dulu menopang pedang dengan percaya diri, kini hanya menjadi pengingat bahwa impian bisa direnggut tanpa peringatan.

Jaan tak pernah takut jatuh, tapi ia tidak pernah membayangkan harus berhenti.