Jaan Ragana lahir pada 11 November 2002 di Semarang, di tengah derasnya hujan yang mengetuk jendela rumah sakit. Ibunya sering bercerita bahwa hujan di hari kelahirannya adalah pertanda: bahwa Jaan akan tumbuh sebagai anak yang membawa badai—baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya.

Dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan berpegang teguh pada nilai-nilai agama, Jaan menjalani masa kecilnya dengan disiplin yang ketat. Ia bersekolah di Al Azhar Solo sejak TK hingga SMA, menjalani rutinitas yang teratur, doa yang dihafal, dan aturan yang harus dipatuhi. Namun, jauh di dalam dirinya, ada dorongan untuk keluar dari garis lurus yang telah digariskan.

Jaan dikenal sebagai anak yang karismatik, pandai berbicara, dan cepat beradaptasi. Namun, ia juga sering mempertanyakan hal-hal yang dianggap pasti. Ketika teman-temannya menerima segala aturan tanpa ragu, Jaan justru mencari celah—bukan untuk melawan, tetapi untuk memahami.

Hubungannya dengan orang tua, terutama ayahnya, penuh dengan percakapan yang menggantung. Ibunya selalu menjadi penengah, tetapi Jaan tahu bahwa ia berbeda dari yang diharapkan. Ia ingin lebih dari sekadar menjadi anak yang taat; ia ingin menemukan makna di luar batas-batas yang sudah ditetapkan.

Saat diterima di FISIP UI, Departemen Ilmu Komunikasi, dunia yang selama ini terasa sempit mendadak terbuka lebar. Ia menemukan kebebasan yang selama ini diidamkan—diskusi tanpa batas, teman-teman dengan pemikiran beragam, serta keberanian untuk merangkai identitasnya sendiri.

Nama “Jaan” berarti kehidupan, tetapi “Ragana”—diambil dari bahasa Sanskerta—berarti luka. Ia menyadari bahwa dirinya adalah perwujudan dari dua hal yang bertolak belakang: seorang anak yang ingin hidup sebebas-bebasnya, tetapi juga seseorang yang terus membawa luka dari masa lalunya.

Sejak kecil, Jaan kerap kali mengganggu Mas Samudra dengan pedang mainannya, membuat ibunya akhirnya mendaftarkannya ke kursus anggar—awalnya hanya sebagai cara untuk menyalurkan energinya yang berlebih. Namun, dari iseng yang tak disengaja itu, Jaan justru menemukan gairahnya. Ia mulai serius berlatih, bertanding, dan sering kali pulang dengan piala di tangannya. Setiap kejuaraan yang diikutinya membawa kebanggaan tersendiri, seolah membuktikan bahwa ia memang ditakdirkan untuk berdiri di arena.

Namun, takdir berkata lain. Impiannya untuk terus menjadi atlet anggar harus pupus ketika dokter menyatakan bahwa cedera di bahunya semakin parah. Mau tak mau, Jaan harus melepaskan pedangnya—bukan karena ia ingin, tetapi karena tubuhnya tak lagi mengizinkannya bertarung.

Mungkin, selama ini anggar adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa memiliki kendali atas hidupnya—begitu ia kehilangan itu, ia semakin tenggelam dalam pencarian identitas yang lebih kompleks.

Apakah Jaan akan mencoba mencari jalan lain untuk tetap terhubung dengan dunia anggar, atau justru memilih untuk menjauh sepenuhnya?