Lahir dari keluarga terpandang, Gema Jagatraya tumbuh dalam limpahan kemewahan. Ayah dan ibunya adalah salah satu pendiri Chelle’N Group, perusahaan raksasa di bidang manajemen properti, retail, dan hospitality. Namun, di balik nama besar keluarganya, Gema tak pernah merasa benar-benar terikat.

Di usia mudanya, ia adalah api liar—seorang pemberontak yang menolak dikekang oleh harapan keluarga. Hidupnya dipenuhi pesta, perjalanan ke luar negeri, mobil mewah, dan pergaulan kelas atas yang tak mengenal batas. Baginya, dunia adalah taman bermain, dan kekayaan orang tuanya hanyalah alat untuk menikmati hidup tanpa beban.
Ia tak pernah peduli bagaimana bisnis keluarganya berjalan. Ia tak peduli bagaimana roda dunia berputar. Baginya, selama warisan tetap mengalir, ia tak perlu memikirkan masa depan.
Namun, takdir adalah ironi yang kejam. Krisis ekonomi melanda, kesalahan bisnis bertumpuk, dan dalam sekejap, Chelle’N Group mengalami kejatuhan besar. Ayahnya kehilangan kendali atas perusahaan, saham anjlok, investor menarik diri, dan hutang membengkak hingga tak terbayarkan.
Dalam sekejap, Gema yang dulu bergelimang kemewahan tak lagi memiliki apapun. Rumah dijual, aset disita, rekening kosong. Yang tersisa hanyalah gengsi yang masih melekat erat di dadanya.
Ia bisa saja meninggalkan bangku kuliah dan mencari jalan pintas, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kekalahan. Di tengah keputusasaan, ia mendengar kabar tentang sebuah penelitian medis yang menawarkan kompensasi besar bagi mereka yang mau menjadi donor sperma. Dengan tidak banyak berpikir, ia pun mendaftarkan diri.
Baginya, ini hanya transaksi biasa. Sebuah cara cepat untuk bertahan tanpa harus jatuh terlalu rendah. Setelah itu, hidupnya tetap berjalan—atau setidaknya, ia pikir begitu.

Bertahun-tahun kemudian, dengan kerja keras dan ambisi yang dipupuk oleh kehancuran masa lalunya, Gema berhasil bangkit. Ia mengembangkan keahlian bisnisnya, membangun koneksi, dan mengambil kembali haknya dalam perusahaan keluarga yang telah direstrukturisasi.
Dengan strategi yang matang dan sikap yang jauh lebih dewasa, ia meraih posisi sebagai CEO dari Halcyon Plaza, salah satu mall paling prestisius di bawah Chelle’N Group.
Kini, ia bukan lagi bocah pemberontak yang menghamburkan kekayaan tanpa berpikir. Ia adalah pemimpin yang dihormati, seorang pria yang mengerti arti kerja keras dan bertahan di dunia yang penuh intrik.
Namun, kehidupan memiliki caranya sendiri untuk mengejutkan.
Suatu hari, di ruang kantornya yang megah, seorang remaja laki-laki berusia 19 tahun datang menemuinya. Wajahnya penuh tekad, tatapannya tajam.
“Aku sudah lama mencarimu… Ayah.”